Chat with us, powered by LiveChat

About Me

header ads

Indonesia Harus Belajar Lagi Dari Oman Perihal Toleransi Demi Keutuhan Pancasila Indonesia Raya

www.korankiu.com

KABAR TERKINI PENYEJUK HATI - Kedutaan Besar Kesultanan Oman untuk pertama kalinya menggelar pameran yang bertajuk Pesan Islam dari Oman. Pameran berlangsung di lobby Perpustakaan Nasional dari 14-18 November 2019. Tujuan inti pameran adalah menyampaikan pesan perdamaian dan toleransi yang telah terbangun ribuan tahun di negara teluk ini.

Duta Besar Kesultanan Oman, Nazar bin Al Julanda bin Majid Al Said menyampaikan pameran ini telah diselenggarakan di 38 negara. Dipilihnya Indonesia sebagai lokasi karena memiliki kesamaan dengan negaranya yaitu sama-sama dikenal sebagai negara toleran dan itu harus selalu kita jalankan dalam kehidupan keseharian ucapnya.

"Kami sama-sama berada di negara yang toleran. Indonesia adalah tanah Pancasila, negara yang beragam tapi satu, dan alhamdulillah kami memegang nilai yang sama walaupun kami bangsa muslim tapi kami tidak menolak perbedaan. Kami juga telah menebarkan pesan perdamaian sepanjang sejarah bangsa kami," jelasnya di Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (14/11).

Nazar mengatakan, hubungan Oman dan Indonesia telah terjalin sejak lama. Pesan perdamaian dari Oman pun telah disampaikan sejak ribuan tahun lalu, saat pedagang Oman memasuki Indonesia. Tak hanya itu, ribuan tahun lalu saat warga Muslim nusantara menunaikan ibadah haji melalui jalur laut, Oman adalah salah satu wilayah yang dilintasi.

"Ini bukan pesan pertama perdamaian Oman yang dikirim ke Indonesia. Sejarahnya lebih dari seribu tahun lalu pedagang Oman datang ke wilayah ini menyebarkan perdamaian, bertukar barang dan menjalin hubungan dan juga di saat yang sama warga Indonesia khususnya Muslim ketika mereka pergi melalui jalur laut ke Mekkah mereka harus melewati Oman dan pesan Islam dari Oman yang kita lihat hari ini adalah kelanjutan dari apa yang pernah terjadi dalam sejarah kita," jelasnya.

Dalam pameran ini ditampilkan sejarah Kesultanan Oman dan bagaimana negara tersebut membangun toleransi antar umat beragama di wilayahnya. Nazar menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah Indonesia khususnya Kementerian Luar Negeri dan Perpustakaan Nasional yang telah mendukung berlangsungnya pameran ini.

"Saya merasa sangat terhormat dengan kedatangan setiap orang yang bisa mengambil pelajaran dari pameran ini," pungkasnya.

Pengawas Umum Pameran dari Oman, Mohammed Al Mamary dalam sambutannya menyampaikan manusia memiliki tanggung jawab bersama untuk menciptakan dunia yang damai dan memperbaiki segala kekacauan yang terjadi. Pameran ini salah satu proyek yang bertujuan untuk mengajak manusia bersama-sama mengedepankan perdamaian dan diharapkan dapat berkontribusi bagi terciptanya dunia yang lebih baik di masa depan.

Indonesia Harus Belajar dari Oman

www.korankiu.com
 
Utusan Khusus Presiden RI untuk Urusan Timur Tengah, Alwi Shihab menyampaikan Indonesia harus belajar bayak dari Oman terkait toleransi. Dia mengatakan Oman adalah negara Arab yang dikenal sangat toleran terhadap agama lain  beserta perbedaan - perbedaanya dan selalu mempromosikan pentingnya toleransi.

"Kita mengajak masyarakat Indonesia untuk datang melihat bagaimana Oman dari dulu sudah membangun rumah-rumah ibadah selain masjid di negaranya, dan ini suatu hal yang patut dicontoh oleh negara-negara Islam lainnya, menghormati perbedaan, dan melakukan semacam pendekatan toleransi. Hal ini sangat kita butuhkan di Indonesia sekarang, karena adanya pemikiran-pemikiran, ideologi yang keras, yang seakan-akan agama lain tidak perlu kita hiraukan. Maka eksibisi hari ini menunjukkan betapa negara Oman sudah ratusan tahun menjalankan idealisme toleransi terhadap mereka yang berbeda dan menghormati peribadatan masyarakat agama yang berbeda dengan Islam," jelasnya.

Alwi juga menilai sangat tepat acara ini diselenggarakan di Jakarta dan harus didukung penuh. Pancasila dan toleransi, lanjutnya, adalah hal yang sama. Karena itulah ada kesamaan Oman dan Indonesia karena memegang prinsip dan nilai yang sama.

"Pancasila menghimpun semua etnis, menghimpun semua agama dalam satu ideologi, begitu juga Oman mempraktekkan hal tersebut dengan membangun rumah-rumah ibadah selain masjid di negaranya. Kita patut mengikuti dan mengukuhkan toleransi antar umat beragama," ujarnya.

Makna toleransi bagi Alwi adalah menerima dan menghormati perbedaan serta mencari titik temu antara dua hal yang berbeda. Nilai ini pun telah diajarkan oleh Islam dimana umat diajarkan mencari persamaan dalam perbedaan.

"Karena dengan persamaan kita bisa bersatu, kita bisa saling menghormati dan kita jangan fanatik menganggap kita lah yang paling benar dan orang lain salah. Kita serahkan semuanya sama Tuhan; agamaku agamamu," ujarnya.

Cederai Toleransi

 
www.korankiu.com

Belum lama ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengeluarkan imbauan agar para pejabat atau siapapun, tidak mengucapkan salam atau kalimat pembuka dari semua agama saat acara resmi. Imbauan MUI Jatim ini dinilai mencederai toleransi antar umat beragama di Indonesia.

"Itu pandangan-pandangan yang sempit semacam itu, tidak boleh disebarluaskan. Dalam Islam diajarkan umat Islam harus berbuat baik," jelasnya.

"Allah tidak melarang orang orang Islam untuk berbuat baik, berlaku santun kepada mereka yang tidak memerangi agama kamu dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Di Indonesia ini penganut agama agama selain Islam mana berani mau mengusir orang Islam, mana berani mau mencederai agama Islam, jadi kita harus santun," lanjutnya.

Ucapan salam dari agama-agama lain menurutnya sebagai tanda menghormati mereka. Apalagi kita hidup di tengah masyarakat yang sangat beragam.

"Jadi tidak perlu kita risau, itu pandangan orang-orang yang tidak melihat inti dari ajaran Alquran. Inti dari ajaran Alquran kita berbuat baik, berlaku adil, dan apakah itu adil atau baik? Itu menurut Anda baik atau adil?" pungkasnya.